Sunday, May 5, 2019

Animasi Penyusunan Jembatan



Contoh Video Animasi Jembatan


Contoh Modul Pengembangan Pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Jembatan merupakan struktur yang dibuat untuk menyeberangi jurang atau rintangan seperti sungai, rel kereta api ataupun jalan raya. Jembatan dibangun untuk penyeberangan pejalan kaki, kendaraan atau kereta api di atas halangan. Jembatan juga merupakan bagian dari infrastruktur transportasi darat yang sangat vital dalam aliran perjalanan (traffic flows). Jembatan sering menjadi komponen kritis dari suatu ruas jalan, karena sebagai penentu beban maksimum kendaraan yang melewati ruas jalan tersebut.
Dalam pembangunan jembatan perlu diketahui banyak sekali komponen komponen jembatan yang perlu dipahami dan dimengerti tentang klasifikasinya agar dalam pembangunan kontruksi jembatan bisa berjalan lancar, oleh karena itu dalam modul ini dijelaskan tentang 1) bagaian bagian struktur jembatan, fungsi dan bagaimana bentuk komponen komponen penyusun jembatan, 2) Jembatang beton bertulang

Bacalah dengan seksama capaian pembelajaran maupun sub capaian pembelajaran untuk mengetahui apa yang akan diperoleh setelah mempelajari materi ini.
Pada bagian uaraian materi anda mempelajari materi pelajaran yang harus anda kuasai. Pelajari dengan seksama materi tiap kegiatan belajar, jika ada informasi yang kurang jelas atau mengalami kesulitan dalam mempelajari setiap materi, sebaiknya berkonsultasi pada pengajar.
B.     CAPAIAN PEMBELAJARAN
Peserta didik dapat memahami dan mengerti  tentang kontruksi jembatan
C.    SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN
1. Memahami mengenai klasifikasi dan komponen komponen kontruksi jembatan
2. Memahami fungsi tiap komponen pada jembatan
3. Memahami dan mengerti tentang jembatan dari beton bertulang
4. Mengerti fungsi dari jembatan beton bertulang.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    BANGUNAN ATAS JEMBATAN

Gambar 1.  Gelagar jembatan

Struktur atas jembatan adalah bagian dari struktur jembatan yang secara langsung menahan beban lalu lintas untuk selanjutnya disalurkan ke bangunan bawah jembatan ( Pronowo dkk,  2007). Bagian bagian pada struktur bangunan atas jembatan terdiri dari perlengkapan lainya,  struktur utama bangunan atas jembatan dapat berupa pelat, gelagar, system rangka, gantung, jembatan kabel atau pelengkung.
Menurut (Siswanto,1993 ), struktur atas jembatan adalah bagian-bagian jembatanyang memindahkan beban-beban lantai jembatan kearah perletakan Struktur atasterdiri dari : gelagar-gelagar induk, struktur tumpuan atau perletakan, struktur lantaijembatan/kendaraan, pertambahan arah melintang dan memanjang.
            Struktur atas jembatan umumnya meliputi     :




a.      Trotoar

Gambar 2.  Trotoar
Trotoar merupakan bagian layanan jembatan yang digunakan untuk tempat berjalan bagi para pejalan kaki yang melewati jembatan agar tidak terganggu lalu lintas kendaraan. Trotoar berada dibagian pinggir kiri-kanan jalan jembatan. Konstruksi trotoardirencanakan sebagai pelat beton yang diletakkan pada lantai jembatan bagian samping yang diasumsikan sebagai pelat yang tertumpu sederhana pada pelat jalan. Ketinggian permukaan lantai trotoar dibuat lebih tinggi dari pada ketinggian permukaan lapisan aus lantai kendaraan.  
Trotoar terbagi atas sandaran dan tiang sandaran, sandaran itu sendiri biasanya berupa pipa besi,kayu dan beton bertulang,beban yang bekerja pada sandaran adlah beban sebesar 100 kg yang bekerja dalam arah horizontal setinggi 0,9 meter. Untuk bagian tiang sandaran (rail post) dilengkapi dengan pipa sandaran yang dipasang dibagian tepi luar lantai trotoar sepanjang bentang jembatan berfungsi sebagai pengaman untuk pejalan kaki yang lewat diatas trotoar,dan merupakan kontruksi pelindung apabila terjadi kecelakaan lalu lintas.  Biasanya terbuat dari beton bertulang untuk jembatan grinder beton, sedangkan untuk jembatan rangka tiang sandaran menyatu dengan struktur rangka kerb dan slab lanti trotoar.



b.      Pelat Lantai Kendaraan

Gambar 3.  Plat lantai kendaraan
Merupakan bagian kontruksi jembatan yang langsung menerima beban lalu lintas yang berjalan di atasnya, yang di dalam perenanaan diperhitungkan terhadar beban hidup/muatan ‘T’ dari tekanan gandar roda kendaraan dan berat kontruksi yang dipikulnya(termasuk berat sendiri lantai ).
c.       Grinder atau Gelagar

Gambar 4.  Gelagar
Gelagar dalam kontruksi atas jembatan merupakan bagian kontruksi jembatan yang berfungsi memikul lantai kendaraan yang kemudian meneruskan beban beban tersebut kebagian kontruksi di bawahnya. Umumnya girder merupakan balok baja dengan profil I, namun girder juga dapat berbentuk box (box girder), atau bentuk lainnya. 
Menurut material penyusunnya girder dapat terdiri dari girder beton dan girder baja. Sedangkan menurut sistem perancangannya, girder terdiri dari girder precast yaitu girder beton yang telah di cetak di pabrik tempat memproduksi beton kemudian beton tersebut di bawa ke tempat pembangunan jembatan atau fly over dan pada saat pemasangan dapat menggunakan girder crane. Selain girder precast, juga dikenal istilah on-site girder, yaitu girder yang di cor di tempat pelaksanaan pembangunan jembatan, girder ini dirancang sesuai dengan perancangan beton pada umumnya yaitu dengan menggunakan bekisting sebagai cetakannya.
Girder ini dapat terbuat dari beton bertulang, beton prategang, baja atau kayu. Panjang bentang jembatan girder beton bertulang ini dapat sampai 25 m, dan untuk jenis girder yang menggunakan beton prategang umumnya memiliki panjang bentang di atas 20 m sampai 40 m. Contoh jembatan girder yang paling umum kita jumpai adalah jembatan sungai.
d.      Balok Diafragma

Gambar 5.  Diafragma

Balok Diafragma merupakan pengaku dari gelegar-gelegar memanjang dan tidak memikul beban plat lantai dan diperhitungkan seperti balok biasa.







e.       Ikatan pengaku ( ikatan angin, ikatan melintang)

Gambar 6.  Ikatan pengaku

Jembatan merupakan struktur ruang yang tidak saja menerima beban-beban vertikal yang kemudian diteruskan ke bangunan bawah tetapi juga menahan gaya-gaya lateral dan longitudinal yang disebabkan oleh angin dan gaya rem. Untuk mendapatkan kekakuan pada jembatan pada arah melintang dan menjaga torsi maka diperlukan adanya ikatan-ikatan angin tersebut. Ikatan angin pada jembatan berfungsi untuk memberi kekakuan pada jembatan dan meneruskan beban akibat angin kepada portal akhir.
f.       Tumpuan ( bearing )

Gambar 7.  Tumpuan

Tumpuan jembatan atau karet jembatan merupakan salah satu komponen utama dalam pembuatan jembatan, yang berfungsi sebagai alat peredam benturan antara jembatan dengan pondasi utama.
B.     BANGUNAN BAWAH JEMBATAN
Menurut Departemen Pekerjaan Umum (Modul pengantar dan prinsip prinsip perenanaan bangunan bawah/ pondasi jembatan, 1988) fungsi utama bangunan bawah adalah memikul beban beban pada bangunan atas dan pada bangunan bawahnya sendiri untuk disalurkan ke pondasi. Yang selanjutnya beban beban tersebut oleh pondasi disalurkan ke tanah.
Struktur bawah jembatan berfungsi memikul seluruh beban struktur atas dan beban lain yang ditimbulkan oleh tekanan tanah, aliran air dan hanyutan, tumbukn, gesekan pada tumpuan, untuk kemudian disalurkan ke pondasi. Selanjutnya beban beban tersebut disalurkan oleh pondasi ke tanah dasar. Struktur bawah jembatan umumnya meliputi :

1.      Pangkal Jembatan (Abutment)

Gambar 8.  Abutment
Bagian yang memikul kedua pangkal jembatan yang terletak di ujung bentang jembatan yang berfungsi untuk meneruskan seluruh beban bangunan atas ke pondasi/ tanah pendukung. Bagian ini dibagun dari bahan beton bertulang atau pasnagan batu kali yang dilengkapi dengan sayap abutment (wing wall). Bentuk abutment dapat berupa abutment tipe T terbalik yang dibuat dari beton bertulang. Abutment meliputi beberapa bagian, diantaranya adalah :

1.      Dinding Belakang (Bak Wall)
2.      Dinding Penahan (Breast Wall)
3.      Dinding sayap (Wing Wall)
4.      Oprit, plat injak (Approah Slab)
5.      Konsol pendek untuk jaking (Corbel )
6.      Tumpuan  ( Bearing)

2.      Pilar Jembatan

Gambar 9.  Pilar Jembatan
Pilar jembatan terletak di tengah jembatan yang memiliki kesamaan fungsi dengan kepala jembatan yaitu mentransfer gaya jembatan rangka ke tanah. Sesuai dengan standar yang ada, panjang bentang rangka baja, sehingga apabila bentang sungai melebihi panjang maksimum jembatan tersebut maka dibutuhkan pilar. Pilar terdiri dari bagian bagian antara lain      :
1.      Kepala pilar (Pier Head)
2.      Pilar ( Pier )
3.      Konsol pendek untuk jeking (Corbel)
4.      Tumpuan (Bearing)






3.      Pondasi Jembatan

Gambar 10.  Pondasi Jembatan
Pondasi berfungsi untuk meneruskan beban beban di atasnya ke tanah dasar, pada perenanaan pondasi harus terlebih dahulu melihat kondisi tanahnya. Dari kondisi tanah ini dapat ditentukan jenis pondasi yang akan dipakai. Pembebanan pada pondasi terdiri atas pembebanan vertical maupun lateral, dimana pondasi harus mampu menahan beban luar diatasnya maupun yang bekerja pada arah lateralnya. Dalam pemilihan tipe pondasi secara garis besar ditentukan oleh kedalaman tanah keras, karena untuk mendukung daya dukung tanah terhadap struktur bangunan jembatan yang akan direncanakan. Alternative tipe pondasi dapat digunakan untuk perencanaan jembatan antara lain :
a.       Pondasi telapak (spread footing).

Gambar 11.  Pondasi telapak

Pondasi telapak digunakan jika lapisan tanah keras (lapisan tanah yang dianggap baik mendukung beban) terletak tidak jauh dari muka tanah. Dalam perenncanaan jembatan pada sungai yang masuh aktif,pondasi telapak tidak dianjurkan mengingat untuk menjaga kemungkinan terjadinya pergeseran akibat gerusan air sungai.
b.      Pondasi sumuran (caison)

Gambar 12.  Pondasi Sumuran

Pondasi sumuran digunakan untuk kedalaman tanah keras antara 2-5m. pondasi sumuran dibuat dengan cara menggali tanah berbentuk lingkaran berdiameter >80 cm. penggalian seara manual dan mudah dilaksanakan. Kemudian lubang galian diisi dengan beton siklop (1p : 2 ps : 3 kr ) atau beton bertulang jika dianggap perlu. Pada ujung pondasi sumuran dipasang poer untuk menerima dan meneruskan beban ke pondasi secara merata.
Ada dua jenis pondasi sumuran, diantaranya adalah :
1.    Open caissons
Open caissons sering juga dinamakan wellfoundation. Dimaksudkan pondasi sumuran dimana tidak ada penutup atas maupun bawah selama dalampelaksanaan.
2.    Pneumati Caissons
Pneumatic caisson adalah caisson dimana diperlengkapi dengan konstruksipenutup didekat dasar caisson yang dapat diatur sedemikian rupa sehingga pekerja pekerja dapat melaksanakan penggalian tanah di dasar sumuran dibawah konstruksi penutup tersebut. Pondasi ini kebanyakan dilaksanakan padajembatan dimana kondisi air sungainya sangat tinggi sehingga tidak mungkinbias dibuat pembendung air (kistdam) secara tersendiri.

c.       Pondasi Tiang (pile foundation)

Gambar 13.  Pondasi tiang pancang

Pondasi tiang pancang (pile foundation) adalah bagian dari struktur yang digunakan untuk menerima dan mentransfer (menyalurkan) beban dari struktur atas ke tanah penunjang yang terletak pada kedalaman tertentu.
Tiang pancang bentuknya panjang dan langsing yang menyalurkan beban ke tanah yang lebih dalam. Bahan utama dari tiang adalah kayu, baja (steel), dan beton. Tiang pancang yang terbuat dari bahan ini adalah dipukul, di bor atau di dongkrak ke dalam tanah dan dihubungkan dengan Pile cap (poer). Tergantung juga pada tipe tanah, material dan karakteistik penyebaran beban tiang pancang di klasifikasikan berbeda-beda.
Pondasi tiang sudah digunakan sebagai penerima beban dan sistem transfer beban bertahun-tahun. Pada awal peradaban, dari komunikasi, pertahananan, dan hal-hal yang strategik dari desa dan kota yang terletak dekat sungai dan danau. Oleh sebab itu perlu memperkuat tanah penunjang dengan beberapa tiang
Tiang panang untuk perenanaan kontruksi jembatan bisa dipakai dari berbagai macam jenis tiang pancang seperti :
1.    Tiang pancang kayu (Log Pile)
2.    Tiang pancang baja (Steel Pile)
3.    Tiang pancang beton (Reinforced Concrate Pile)
4.    Tiang pancang beton prategang pracetak (Precast Prestressed Concrete Pile), spun pile
5.    Tiang beton cetak di tempat (Concrete Cast in Place), borpile, franky pile
6.    Tiang pancang komposit (Composite Pile)

C.    BANGUNAN PENGAMAN DAN PELENGKAP
1.      Drainase

Gambar 14.  Drainase jembatan

Fungsi drainase pada kontruksi jembatan adalah untuk membuat air hujan secepat mungkin dialirkan ke luar dari jembatan sehingga tidak terjadi genangan air dalam waktu yang lama. Akibat terjadinya genangan air maka akan mempercepat kerusakan pada struktur dari jembatan itu sendiri. Saluran drainase ditempatkan pada tepi kanan dan kiri badan jembatan, dan gorong gorong.


2.      Jalan Pendekat

Gambar 15.  Jalan pendekat

Menurut Pranowo dkk (2007), jalan pendekat adalah struktur jalan yang  menghubungkan antara suatu ruas jalan dengan struktur jembatan; bagian jalan pendekat ini dapat terbuat dari tanah timbunan,dan memerlukan pemadatan yang khusus, karena letak dan posisinya yang cukup sulit untuk dikerjakan, atau dapat juga berbentuk struktur kaki seribu ( pile slab ), yang berbentuk pelat yang disangga oleh balok kepala di atas tiang-tiang. Permasalahan utama pada timbunan jalan pendekat yaitu sering terjadinya penurunan atau deformasi pada ujung pertemuan antara struktur perkerasan jalan terhadap ujung kepala jembatan.

3.      Talud

Gambar 16.  Talud
Talud mempunyai fungsi utama sebagai pelindung abutment dari aliran air sehingga sering disebut talud pelindung terletak sejajar dengan arah arus sungai.
4.      Patok Penuntun
Patok penuntun ini berfungsi sebagi petunjuk jalan bagi kendaraan yang akan melewati jembatan, biasanya diletakkan sepanjang oprit jembatan

5.      Lampu Penerangan

Gambar 17.  Lampu penerangan jembatan
Menurut Departement Pekerjaan Umum (1992) tentang spesifikasi lampu penerangan jalan perkotaan, Lampu penerangan jalan adalah bagian dari bangunan pelengkap jalan yang dapat diletakkan/dipasang di kiri/kanan jalan dan atau ditengah ( di bagian median jalan ) yang digunakan untuk menerangi jalan maupun lingkungan disekitar jalan yang diperlukan termasuk persimpangan jalan (intersection), jalan laying (interchange, overpass, fly over), jembatan dan jalan dibawah tanah (underpass, terowongan).

D.    TIPE TIPE JEMBATAN BETON BERTULANG
Jembaan dengan beton bertulang umumnya hanya digunakan untuk bentang jembatan yang pendek. Untuk bentang panjang sering digunakan beton prategang, dengan beton prategang bentang jembatan panjang dapat dibuat dengan mudah. Ditinjau dari fungsinya maka jembatan dapat dibedakan menjadi :


1.      Jembatan jalan raya (highway bridge)


Gambar 18.  Jembatan jalan raya
Jembatan yang direncanakan untuk memikul beban lalu lintas kendaraan baik kendaraan berat maupun ringan. Jembatan jalan raya ini menghubungkan antara jalan satu ke jalan lainnya.
2.      Jembatan penyeberangan (foot bridge)


Gambar 19.  Jembatan penyeberangan
Jembatan yang digunakan untuk penyeberangan jalan. Fungsi dari jembatan ini yaitu untuk memberikan ketertiban pada jalan yang dilewati jembatan penyeberangan tersebut dan memberikan keamanan serta mengurangi faktor kecelakaan bagi penyeberang jalan.



3.      Jembatan kereta api (railway bridge)


Gambar 20.  Jembatan kereta api
Jembatan yang dirancang khusus untuk dapat dilintasi kereta api. Perencanaan jembatan ini dari jalan rel kereta api, ruang bebas jembatan, hingga beban yang diterima oleh jembatan disesuaikan dengan kereta api yang melewati jembatan tersebut.
Ditinjau dari sistem strukturnya maka jembatan dapat dibedakan menjadi sebagai berikut  :
1.      Jembatan lengkung (arch bridge)

Gambar 21.  Jembatan lengkung

Pelengkung adalah bentuk struktur non linier yang mempunyai kemampuan sangat tinggi terhadap respon momen lengkung. Yang membedakan bentuk pelengkung dengan bentuk – bentuk lainnya adalah bahwa kedua perletakan ujungnya berupa sendi sehingga pada perletakan tidak diijinkan adanya pergerakan kearah horisontal. Bentuk Jembatan lengkung hanya bisa dipakai apabila tanah pendukung kuat dan stabil. Jembatan tipe lengkung lebih efisien digunakan untuk jembatan dengan panjang bentang 100 – 300 meter.
2.      Jembatan gelagar (beam bridge)


Gambar 21.  Jembatan gelagar

Jembatan bentuk gelagar terdiri lebih dari satu gelagar tunggal yang terbuat dari beton, baja atau beton prategang. Jembatan jenis ini dirangkai dengan menggunakan diafragma, dan umumnya menyatu secara kaku dengan pelat yang merupakan lantai lalu lintas. Jembatan ini digunakan untuk variasi panjang bentang 5 – 40 meter.
3.      Jembatan cable-stayed


Gambar 22.  Jembatan cable-stayed

Jembatan cable-stayed menggunakan kabel sebagai elemen pemikul lantai lalu lintas. Pada cable-stayedkabel langsung ditumpu oleh tower. Jembatan cable-stayed merupakan gelagar menerus dengan tower satu atau lebih yang terpasang diatas pilar – pilar jembatan ditengah bentang. Jembatan cable-stayed memiliki titik pusat massa yang relatif rendah posisinya sehingga jembatan tipe ini sangat baik digunakan pada daerah dengan resiko gempa dan digunakan untuk variasi panjang bentang 100 - 600 meter.
4.      Jembatan gantung (suspension bridge)


Gambar 23.  Jembatan gantung
Sistem struktur dasar jembatan gantung berupa kabel utama (main cable) yang memikul kabel gantung (suspension bridge). Lantai lalu lintas jembatan biasanya tidak terhubungkan langsung dengan pilar, karena prinsip pemikulan gelagar terletak pada kabel.
Apabila terjadi beban angin dengan intensitas tinggi jembatan dapat ditutup dan arus lalu lintas dihentikan. Hal ini untuk mencegah sulitnya mengemudi kendaraan dalam goyangan yang tinggi. Pemasangan gelagar jembatan gantung dilaksanakan setelah sistem kabel terpasang, dan kabel sekaligus merupakan bagian dari struktur launching jembatan. Jembatan ini umumnya digunakan untuk panjang bentang sampai 1400 meter.

5.      Jembatan beton prategang (prestressed concrete bridge)


Gambar 24.  Jembatan beton prategang
Jembatan beton prategang merupakan suatu perkembangan mutakhir dari bahan beton. Pada Jembatan beton prategang diberikan gaya prategang awal yang dimaksudkan untuk mengimbangi tegangan yang terjadi akibat beban. Jembatan beton prategang dapat dilaksanakan dengan dua sistem yaitu post tensioning dan pre tensioning. Pada sistem post tensioning tendon prategang ditempatkan di dalam duct setelah beton mengeras dan transfer gaya prategang dari tendon pada beton dilakukan dengan penjangkaran di ujung gelagar. Pada pre tensioning beton dituang mengelilingi tendon prategang yang sudah ditegangkan terlebih dahulu dan transfer gaya prategang terlaksana karena adanya ikatan antara beton dengan tendon. Jembatan beton prategang sangat efisien karena analisa penampang berdasarkan penampang utuh. Jembatan jenis ini digunakan untuk variasi bentang jembatan 20 - 40 meter.




6.      Jembatan box girder


Gambar 25.  Jembatan beton prategang
Jembatan box girder umumnya terbuat dari baja atau beton konvensional maupun prategang. box girderterutama digunakan sebagai gelagar jembatan, dan dapat dikombinasikan dengan sistem jembatan gantung,cable-stayed maupun bentuk pelengkung. Manfaat utama dari box girder adalah momen inersia yang tinggi dalam kombinasi dengan berat sendiri yang relatif ringan karena adanya rongga ditengah penampang. box girder dapat diproduksi dalam berbagai bentuk, tetapi bentuk trapesium adalah yang paling banyak digunakan. Rongga di tengah box memungkinkan pemasangan tendon prategang diluar penampang beton. Jenis gelagar ini biasanya dipakai sebagai bagian dari gelagar segmental, yang kemudian disatukan dengan sistem prategang post tensioning.
Analisa full prestressing suatu desain dimana pada penampang tidak diperkenankan adanya gaya tarik, menjamin kontinuitas dari gelagar pada pertemuan segmen. Jembatan ini digunakan untuk variasi panjang bentang 20 – 40 meter. Dalam perancangan jembatan ada beberapa aspek yang perlu ditinjau yang nantinya akan mempengaruhi dalam penetapan bentuk maupun dimensi jembatan. Adapun aspek tersebut antara lain :

1.      Aspek lokasi dan tipe jembatan
2.      Aspek lalu lintas
3.      Aspek hidrologi
4.      Aspek tanah
5.       Aspek geometri jembatan
6.      Aspek konstruksi jembatan

E.     PEMBEBANAN JEMBATAN

Gambar 26.  Beban Jembatan
Peraturan pembebanan yang digunakan pada perencanaan struktur jembatan prategang tipe PCU-Girder ini adalah RSNI T-02-2005 (standar pembebanan untuk jembatan), dan RSNI T-12-2004 (perencanaan struktur beton untuk jembatan). Berdasarkan RSNI T-12-2004 tentang perencanaan kekuatan struktur beton bertulang sebagai komponen jembatan harus direncanakan dengan menggunakan cara ultimit atau cara perencanaan berdasarkan beban dan kekuatan terfaktor (PBKT).
Walaupun demikian, untuk perencanaan komponen struktur jembatan yang mengutamakan suatu pembatasan tegangan kerja, atau ada keterkaitan dengan aspek lain yang sesuai batasan perilaku deformasinya, atau sebagai cara perhitungan alternative, bisa digunakan cara perencanaan berdasarkan batas layan/tegangan ijin (PBL).
Dengan demikian metode perencanaan struktur jembatan prategang tipe PCU-Girder di bagi menjadi dua metode, yaitu: metode perencanaan ultimit (PBKT) dan metode perencanaan tegangan ijin (PBL). Metode perencanaan ultimit digunakan pada perhitungan struktur atas jembatan dengan pemilihan faktor beban ultimit sesuai peraturan. Metode perencanaan tegangan ijin dengan beban kerja digunakan untuk perhitungan struktur bawah jembatan (pondasi).
Tahapan Pembebanan
Salah satu pertimbangan istimewa pada beton prategang adalah banyaknya tahapan pembebanan saat komponen struktur dibebani. Sedikitnya ada 3 (tiga) tahapan yaitu tahap awal saat pemberian gaya prategang, tahap pengangkatan dan pengangkutan, lalu tahap akhir saat beton menerima beban eksternal.
1)  Tahap Awal
Pembebanan tahap awal merupakan pemberian gaya prategang terhadap girder tetapi belum dibebani oleh beban eksternal. Tahap ini dapat dibagi dalam beberapa tahap:
a)  Sebelum Diberi Gaya Prategang
Pada masa sebelum diberi gaya prategang, beton girder masih lemah dalam memikul beban, oleh karena itu harus dicegah agar tidak terjadi kehancuran pada ujung girder. Harus diperhitungkan susut beton, dan retakan yang timbul akibat sust tersebut. Curing beton harus diperhatikan sebelum peralihan gaya prategang.
b)  Pada Saat Diberi Gaya Prategang
Besarnya gaya prategang yang berkerja pada tedon saat proses stressing dapat membuat kabel strand putus jika pemberian gaya melebihi tegangan maksimum strand atau jika strand dalam kondisi rusak. Beton bermutu rendah atau belum cukup umur juga dapat hancur pada tahapan ini.
c)  Pada Saat Peralihan Gaya Prategang
Untuk komponen struktur post-tension peralihan beban berlangsung secara bertahap, gaya prategang pada tendon dialihkan ke beton satu-per satu tendon. Pada keadaan ini gaya eksternal belum berkerja kecuali berat sendirinya. Gaya prategang awal setelah terjadi kehilangan juga ikut menentukan desain girder.
Girder dengan panjang bentang tersebut diatas yang terletak diatas dua tumpuan, akibat berat sendirinya akan menimbulkan momen positif ditengah bentang. Oleh karena itu maka gaya yang diberikan pada girder harus dapat mengimbangi kondisi seperti ini.
2)  Tahap Antara
Pembebanan tahap ini ada khususnya untuk beton precast yang mengalami proses perpindahan dari pabrik ke lokasi terakhirnya. Tahapan antara merupakan tahapan pembebanan selama girder dalam masa pengangkutan dan pengangkatan, termasuk masa saat girder dalam proses erection.
Cara pengangkatan dan pengangkutan balok girder harus diperhitungkan dengan baik. Pengangkatan dengan cara yang salah dapat mengakibatkan balok girder retak atau bahkan mungkin patah.
3)  Tahap Akhir
Pembebanan tahap akhir merupakan tahapan dimana beban rencana telah berkerja pada struktur. Pada beton prategang, ada tiga jenis beban kerja yang dialami:


a)  Beban Kerja Tetap
Lendutan ke atas atau kebawah girder akibat beban kerja tetap konstruksi tersebut merupakan salah satu factor penentu dalam desain, karena pengaruh dari rangkaian akibat lentur akan memperbesar nilainya. Sehingga diberikan batasan tertentu besarnya lendutan akibat beban tetap.
b)  Beban Kerja
Girder juga didesain berdasarkan beban kerja yang akan dideritanya. Beban kerja yang berlebihan harus ikut dipertimbangkan.
c)  Beban Retak
Retak pada komponen beton prategang berarti perubahan mendadak pada tegangan rekat dan geser yang sering menjadi parameter bagi kekuatan lelah.
d)  Beban Batas
Beban batas struktur merupakan beban maksimum yang dapat dipikul struktur tersebut sebelum hancur, atau disebut juga ultimate strength. Beban batas diperhitungkan melalui factor beban yang dikalikan pada beban kerja.
Beban Tetap
Beban tetap merupakan beban yang bekerja sepanjang waktu dan bersumber pada bahan jembatan, cara jembatan dibangun dan juga bangunan lain yang mungkin menempel pada jembatan.
1)  Berat Sendiri
Berat sendiri dari bagian bangunan adalah berat dari bagian tersebut dan elemen-elemen struktur lainnya yang dipikul. Termasuk dalam hal ini adalah berat bahan dan bagian jembatan yang merupakan elemen struktural, ditambah dengan elemen non struktural yang dianggap tetap. Faktor berat sendiri diatur pada RSNI T-02-2005 5.2.
Tabel Faktor beban berat sendiri Sumber: RSNI T-02-2005 5.2.
2)  Beban Mati Tambahan/Utilitas
Beban mati tambahan merupakan berat seluruh bahan yang membentuk suatu beban pada jembatan yang merupakan elemen non struktural, dan mungkin besarnya berubah selama umur jembatan. Dalam hal tertentu harga KMA yang telah berkurang boleh digunakan dengan persetujuan instansi yang berwenang. Hal ini bisa dilakukan apabila instansi tersebut mengawasi beban mati tambahan sehingga tidak dilampaui selama umur jembatan. Faktor beban mati tambahan diatur pada RSNI T-02-2005 5.3.
Tabel Faktor beban untuk beban mati tambahan Sumber: RSNI T-02-2005


3)  Beban Lalu Lintas
Beban lalu lintas untuk perencanaan jembatan terdiri dari beban lajur “D” dan beban truk “T”. Beban lajur “D” bekerja pada seluruh lebar jalur kendaraan dan menimbulkan pengaruh pada jembatan yang ekivalen dengan suatu iring-iringan kendaraan yang sebenarnya. Jumlah total beban lajur “D” yang bekerja tergantung pada lebar jalur kendaraan itu sendiri.
Beban truk “T” adalah satu kendaraan berat dengan 3 as yang ditempatkan pada beberapa posisi dalam lajur lalu lintas rencana. Tiap as terdiri dari dua bidang kontak pembebanan yang dimaksud sebagai simulasi pengaruh roda kendaraan berat. Hanya satu truk “T” diterapkan perlajur lalu lintas rencana.
Secara umum beban “D” akan menentukan dalam perhitungan yang mempunyai bentang mulai sedang sampai panjang, sedangkan beban “T” digunakan untuk bentang pendek dan lantai kendaraan.
4)  Beban lajur “D”
Beban lajur “D” terdiri dari beban tersebar merata (BTR) yang digabung dengan beban garis (BGT). Menurut RSNI T-02-2005, beban terbagi rata (BTR) mempunyai intensitas q kPa, dimana besarnya q tergantung pada panjang total yang dibebani L seperti persamaan berikut ini:
L ≤ 30 m:  q = 9,0 kPa
L ≥ 30 m:  q = 9,0 (0,5 + 15/L) kPa
Beban garis: Satu BGT dengan intensitas p kN/m harus ditempatkan tegak lurus dari arah lalu lintas pada jembatan. Besarnya intensitas p adalah 49.0 kN/m. Secara umum beban “D” akan menentukan dalam perhitungan yang mempunyai bentang mulai dari sedang sampai panjang.
Tabel Faktor beban akibat beban lajur “D” Sumber: RSNI T-02-2005 6.3.
5)  Gaya Rem
Efek rem dan percepatan pada lalu lintas ditetapkan sebagai gaya yang bekerja arah memanjang yang bekerja di permukaan jalan. Bekerjanya gaya-gaya arah memanjang jembatan, akibat gaya rem dan traksi, harus ditinjau untuk kedua jurusan lalu lintas.
Pengaruh ini di diperhitungkan senilai dengan gaya rem sebesar 5% dari beban lajur “D” yang dianggap ada pada semua jalur lalu lintas tanpa dikalikan faktor beban dinamis. Gaya rem tersebut dianggap bekerja horisontal dalam arah sumbu jembatan dengan titik tangkap setinggi 1,8 m diatas permukaan lantai jembatan.
Tabel Faktor beban akibat gaya rem Sumber: RSNI T-02-2005 6.9.
6)  Pembebanan Pejalan Kaki
Sesuai dengan peraturan RSNI T-02-2005 6.7 semua elemen dari trotoar atau jembatan penyeberangan yang langsung memikul pejalan kaki harus direncanakan untuk beban nominal 5 kPa. Unsur jalan yang menerima beban pejalan kaki dinyatakan dalam satuan luas.
Tabel Faktor beban untuk pejalan kaki Sumber: RSNI T-02-2005 5.3.
7)  Beban Truk “T”
Berdasarkan RSNI T-2-2005 6.4.1 pembebanan truk terdiri dari kendaraan truk semi-trailer yang memiliki susunan dan berat as. Berat dari masing-masing as disebarkan menjadi dua beban merata sama besar yang merupakan bidang kontak antara roda dengan permukaan lantai.
Jarak antara dua as tersebut bisa diubah-ubah antara 4,0 m sampai 9,0 m untuk mendapatkan pengaruh terbesar pada arah memanjang jembatan. Terlepas dari panjang jembatan atau susunan bentang, hanya ada satu kendaraan truk “T” yang bisa ditempatkan pada satu lajur lalu lintas rencana.

Tabel Faktor beban akibat pembebanan truk “T” Sumber: RSNI T-02-2005 6.4.
8)  Beban Angin
Angin harus dianggap bekerja secara merata pada seluruh bangunan atas. Beban angin statik yang bekerja pada dek jembatan diperhitungkan sebesar luas ekivalen bagian samping jembatan. Beban kerja dan terfaktor angin yang bekerja pada jembatan didapat dari persamaan:
TEW = 0,0006 CW (VW)2 Ab [Kn]
Apabila suatu kendaraan sedang berada diatas jembatan, beban garis merata tambahan arah horizontal harus diterapkan pada permukaan lantai seperti diberikan dengan rumus:
TEW = 0,0012 CW (VW)2 Ab [Kn]
Keterangan:    
Cw    = koefisien seret
Vw    = kecepatan angin rencana (m/detik)
e      = ekivalen luas jembatan [m2]
Rew  = beban angin arah horizontal (KN/m)
H      = tinggi kendaraan (m)
Qew  = transfer beban angin ke lantai jembatan (KN/m)
Tabel Koefisien seret Cw Sumber: RSNI T-02-2005 7.6.
Tabel Kecepatan angin rencana Vw Sumber: RSNI T-02-2005 7.6.

Tabel Faktor beban untuk beban angin Sumber: RSNI T-02-2005 7.6.


9)  Beban Gempa
Dalam suatu perencanaan jembatan harus memperhitungkan beban akibat pengaruh terjadinya gempa.
Celastis = A . R . S ; Cplastis = A . R . S / Z
Keterangan :
Celastis      = Koefisien geser dasar tanpa faktor daktilitas dan resiko (Z)
Cplastis      = Koefisien geser dasar termasuk faktor daktilitas dan resiko  
A        = Percepatan/ akselerasi puncak (PGA) di batuan dasar
R      = Respon batuan dasar
Z      = Faktor reduksi sehubungan daktilitas dan resiko
Dalam suatu perencanaan jembatan, harus memperhitungkan beban akibat pengaruh terjadinya gempa. Beban gempa hanya diperhitungkan untuk kondisi batas ultimate. Beban gempa biasanya berakibat langsung pada perencanaan pilar, kepala jembatan dan pondasi. Besarnya beban gempa diperhitungkan sebagai berikut.
T’EQ = KV . I . WT       ; Kh = C . S
Dimana:
T’EQ  = Gaya geser dasar dalam arah yang ditinjau (kN)
Kh     = Koefisien beban gempa horizontal
Kv     = Koefisien beban gempa vertical
I       = Faktor kepentingan
C      = Koefisien geser dasar
S      = Faktor tipe bangunan
WT    = Berat total nominal bangunan termasuk beban mati tambahan.
Koefisien geser dasar (C) ditentukan dengan menggunakan grafik hubungan waktu getar bangunan (T) dan (C) dapat dihitung dengan rumus:
T = 2 × 3,14 √WT / g . KP (detik)
Dengan pengertian :
WT    = Berat total jembatan termasuk beban mati tambahan
g      = Percepatan gravitasi (m/det)
KP     = Kekakuan gabungan sebagai gaya horizontal yang diperlukan untuk menimbulkan satu satuan lendutan pada bagian atas pilar (kN/m)
Tabel Faktor beban untuk beban gempa
Tabel Faktor kepentingan Sumber: RSNI T-02-2005 7.7.3.
Tabel Faktor tipe bangunan Sumber: RSNI T-02-2005 7.7.3
Tekanan Tanah Lateral/Dinamis Akibat Gempa
Gaya gempa arah lateral akibat tekanan tanah (tekanan tanah dinamis) dihitung denggan menggunakan faktor harga dari sifat bahan), koefesien geser dasar C, faktor kepentingan I terdapat dalam tabel. Faktor tipe struktur untuk kepentingan Kh harus diambil sama dengan 1,0. Pengaruh dari percepatan tanah arah vertikal bisa diabaikan.
Tabel Koefesien Geser Dasar (C) Sumber: RSNI T-02-2005 7.7.3




Pengaruh Umur Rencana
Faktor beban untuk keadaan batas ultimit didasarkan kepada umur rencana jembatan 50 tahun. Untuk jembatan dengan umur rencana yang berbeda, faktor beban ultimit harus diubah dengan menggunakan faktor pengali seperti yang diberikan pada tabel.
Tabel Pengaruh umur rencana pada faktor beban ultimit Sumber: RSNI T-02-2005 9.2.











TEST FORMATIF
Petunjuk Mengerjakan Soal
Bacalah setiap soal  dengan teliti dan cermat
Setiap Soal disedialan 5 (lima) alternatif  jawaban
Berilah tanda silang  x dengan menggunakan ballpoint warna hitam pada jawaban yang anda anggap paling benar

Selamat mengerjakan
1. Tumpuan yang seperti apa digunakan pada jembatan tipe lengkung?
a. Sendi dan Lengkung                                  d. Roll dan Roll
b. Sendi dan Roll                                           e. Roll dan Lengkung
c. Sendi dan Sendi
2. Setiap tipe tipe jembatan memiliki panjang efektif yang berbeda beda.Berapa panjang efektif jembatan tipe lengkung?
            a. 5-40 m                                                         d. 100-300 m
            b. 100-600 m                                                  e. 20-40 m
            c. 300-1400 m
3. Apa yang menjadi ciri dari jembatan cable-stayed?
            a.Gelagar beton yang panjang membentang
            b.Lantai lalu lintas yang dipikul oleh kabel baja panjang dan kuat
            c.Rangka rangka baja yang banyak
            d.Bentuk sederhana dengan beton lengkung
            e.Beban lalu lintas yang di bawahnya terdapat penyangga tunggal
4. Luas bentang untuk jembatan yang dilewati kereta api memiliki fungsi tersendiri. Berapa meter luas untuk jembatan rel kereta api?
          a.Selebar kereta api + 1m untuk ruang
          b.Selebr 1 jalur jalan raya
          c.Selebar bahu jalan
          d.Seluas 2 meter
          e.Seluas rel kereta
5. Komponen yang pasti ada pada jembatan,kecuali..
          a. Trotoar
          b. Plat lantai kendaraan
          c. Grinder
          d. Shooter
          e. Tumpuan
6. Jenis pondasi apa yang dipakai dalam kontruksi jembatan,kecuali?
          a. Pondasi Sumuran                                      d. Pondasi Pile
          b. Pondasi Tiang                                 e. Pondasi Cakar ayam
          c. Pondasi Telapak
7. Pondasi sumuran digunakan untuk kedalaman tanah keras antara..?
            a. 2-5 m                                                           d. 5-6 m
            b. 3-6 m                                                           e. 7-8 m
            c. 1-2 m

8.  Pada tahap apa beton prategang itu pada masa masa yang mudah hancur karena susut apabila tidak diperhatikan dengan baik perawatanya.?
            a. Tahap awal                                      d. Tahap perawatan
            b. Tahap akhir                                     e. Tahap pertengahan
            c. Tahap perencanaan
9. Ikatan angin pada jembatan berfungsi untuk..?
            a. Menerima beban hembusan angin
            b. Memberi kekakuan tambahan pada jembatan
            c. Menahan susutnya jembatan
            d. Memberikan komponen tambahan
            e. Menarik ujung kiri dan kanan
10. Bagian apa yang menjadi perbedaan mendasar antara jembatan penyeberangan dengan jembatan lalu lintas?
            a. Plat lantai jembatan
            b. Gelagar jembatan
            c. Trotoar jembatan
            d. Sendi Jembatan
            e. Penyangga Jembatan